Jumat, 19 Agustus 2016

Filsafat Dalam Paradigma Ilmu Pengetahuan

Filsafat Dalam Paradigma Ilmu Pengetahuan


www.proctorgallagherinstitute.com


BAB I
PENDAHULUAN
1
Latar Belakang
Filsafat telah ada di dunia selama ribuan tahun. Sejak manusia berpikir, maka filsafat ada. Namun istilah filsafat memang baru ditemukan setelah berabad-abad peradaban manusia berlangsung di muka bumi. Maka ketika istilah filsafat sudah ditemukan, seiring dengan hasil-hasil pemikiran yang dikemukakan oleh manusia, kemudian lahirlah cabang-cabang dari filsafat itu.
Berjalannya waktu, hingga saat ini telah banyak ilmu-ilmu pengetahuan yang berkembang. Sangat banyak ilmu pengetahuan hingga mungkin tidak bisa disebutkan satu per satu dan tidak bisa berhenti karena seiring dengan kemajuan pola pikir manusia dan hasrat mereka dalam dunia pendidikan, maka ilmu pengetahuan bisa jadi makin bertambah banyak.
Dunia pendidikan sudah sejak dahulu dipandang sebagai wahana yang harus dimasuki oleh umat manusia. Baik secara formal maupun non-formal, manusia diharuskan memiliki pengetahuan melalui sarana pendidikan. Sarana pendidikan juga dianggap sebagai faktor seseorang mendapatkan kedudukan tertentu dalam stratifikasi sosial di masyarakat. Bahkan dalam agama islam, umat islam diwajibkan untuk menuntut ilmu sepanjang hayatnya.

Rumusan Masalah
Dalam makalah ini, kami merumuskan beberapa masalah yang akan kami bahas, yaitu:

  • Apa pengertian paradigma?
  • Apa pengertian filsafat ilmu pengetahuan?
Tujuan
Berdasarkan masalah yang kami rumuskan pada bagian rumusan masalah di atas, maka dengan makalah ini kami bertujuan untuk:
  • Mengetahui apa pengertian paradigma.
  • Mengetahui apa pengertian filsafat ilmu pengetahuan.

BAB II
PEMBAHASAN

1.      Pengertian Paradigma
Dalam bahasa Inggris, paradigma disebut dengan paradigm. Sedangkan dalam bahasa Prancis disebut paradigme. Istilah tersebut merupakan serapan dari bahasa Latin, yaitu ‘para’ dan ‘deigma’. Secara etimologis, para berarti di samping, di sebelah. Sedangkan deigma berarti memperlihatkan, yang berarti, model, contoh. Namun dalam bentuk kata kerja, mempunyai arti menunjukkan sesuatu. Dalam Kamus Filsafat, paradigma diartikan sebagai cara memandang sesuatu; dalam ilmu pengetahuan artinya menjadi model; totalitas premis-premis teoritis dan metodologis yang menentukan atau mendefinisikan suatu studi ilmiah konkret. Dan ini melekat di dalam praktek ilmiah pada tahap tertentu; dasar untuk menyeleksi problem-problem dan pola untuk memecahkan problem-problem riset.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian paradigma adalah 1) Ling daftar semua bentukan dari sebuah kata yang memperlihatkan konjugasi dan deklanasi kata tersebut, 2) Model dalam teori ilmu pengetahuan, 3) Kerangka berpikir atau kerangka acuan. Dalam buku Filsafat Ilmu, Jujun S. Sumantri menyatakan bahwa paradigma adalah cara pandang terhadap dunia yang menjadi acuan dari revolusi ilmah dan mempunyai cara kerja terhadap revolusi ilmah itu sendiri. Secara umum, pengertian paradigma adalah seperangkat kepercayaan atau keyakinan dasar yang menuntun seseorang dalam bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Guba yang dikutip oleh Muhammad Adib (Filsafat Ilmu, 2010), paradigma dalam ilmu pengetahuan mempunyai definisi bahwa seperangkat keyakinan mendasar yang memandu tindakan-tindakan manusia dalam keseharian maupun dalam penyelidikan ilmiah. Jadi menurut pemakalah paradigma adalah suatu rangkaian berpikir yang menjadi acuan dan kepercayaan yang mendasar yang menuntun seseorang dalam bertindak.

2.      Filsafat dalam Paradigma Ilmu Pengetahuan
  • Tahap Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Cara perkembangan ilmu pengetahuan menurut Thomas Samuel Kuhn, dapat diringkas menjadi skema yang open-ended. Artinya sebuah akhir yang selalu terbuka untuk diperbaiki dan dikembangkan lebih lanjut.

       Tahap Pra Paradigma dan Pra Science

Yudi (2010) mengatakan bahwa pada tahap ini aktivitas-aktivitas ilmiah dilakukan secara terpisah dan tidak terorganisir sebab tidak ada persetujuan tentang subject matter, problem-problem dan prosedur di antara para ilmuwan yang bersaing, karena tidak adanya suatu pandangan tersendiri yang diterima oleh semua ilmuwan tentang suatu teori (fenomena). Dari sejumlah aliran yang bersaing, kebanyakan mereka mendukung satu atau lain varian dalam teori tertentu dan di samping itu ada kombinasi dan modifikasi lain yang masing-masing aliran mendukung teorinya sendiri-sendiri (Merymaswarita, 2009). Sehingga sejumlah teori boleh banyak digunakan pada pelaksanaannya di lapangan dan setiap ahli teori itu merasa wajib memulai dengan yang baru dan membenarkan pendekatannya sendiri, hal semacam ini berlangsung selama kurun waktu tertentu sampai suatu paradigma tunggal diterima oleh semua aliran yang dianut ilmuwan tersebut dan ketika paradigma tunggal diterima, maka jalan menuju normal science mulai ditemukan (Yudi, 2010).
Contoh pada fase ini adalah adanya persaingan dari ilmuwan untuk mempertahankan teorinya masing-masing dan mendukung teori yang lain. Seperti teori epicurus, teori aristoteles, atau teori plato. Satu kelompok menggangap cahaya berasal dari satu partikel-partikel yang keluar dari benda yang berwujud, bagi ilmuwan yang lain mengatakan cahaya adalah modifikasi dari medium yang menghalang diantara benda itu denganmata, yang ahli lain lagi menerangkan bahwa cahaya sebagai interaksi antara medium dan yang dikeluarkan oleh mata. Karena dari masing-masing ilmuwan tidak ada kesepakatan tentang konsep cahaya itu sendiri maka, paradigma tentang cahaya tidak bisa disepakati oleh komunitas ilmiah, selama belum adanya kesepakatan maka tidak akan terjadi normal sains (Kuhn, 1989).

       Tahap Paradigma Normal Science

Aktivitas yang terpisah-pisah dan tidak terorganisasi yang mengawali pembentukan suatu ilmu akhirnya menjadi tersusun dan terarah pada suatu paradigma tunggal yang telah dianut oleh suatu masyarakat ilmiah, suatu paradigma yang terdiri asumsi-asumsi teoritis yang umum dari hukum-hukum serta teknik-teknik untuk penerapannya diterima oleh para anggota komunitas ilmiah, keadaan seperti inilah yang dikatakan dalam tahapan paradigma normal sains (Chalmers, 1983).
Para ilmuwan akan menjelaskan dan mengembangkan paradigma dalam usaha mempertanggung-jawabkan dan menjabarkan perilaku beberapa aspek yang relevan dengan dunia nyata ini, sebagaimana diungkapkan lewat hasil-hasil eksperimen. Physica karya Aristoteles, Almagest karya Ptolemaeus, Principia dan Opticks karya Newton, Electricity karya Franklin, Chemistry karya Lavoisier dan Geology karya Lyell, pencapaian mereka cukup baru belum pernah ada sebelumnya sehingga dapat menghindarkan kelompok penganut yang kekal dari mempersaingkan cara melakukan kegiatan ilmia (Kuhn, 1989).
Ilmuwan yang risetnya didasarkan atas paradigma bersama terikat pada kaidah-kaidah dan standar-standar praktek ilmiah yang sama. Contoh konsep yang disepakati pada tahapan normal sains ini adalah pada abad ke-18 paradigma disajikan tentang Optik karya Newton yang mengajarkan bahwa cahaya adalah partikel yang sangat halus yang diterima oleh komunitas ilmiah pada zaman tersebut(Kuhn, 1989).
Dari penjelasan di atas bisa dikatakan pada tahap ini tidak terdapat sengketa pendapat mengenai hal-hal fundamental di antara para ilmuwan, sehingga paradigma tunggal diterima oleh semuanya. Paradigma tunggal yang telah diterima tersebut dilindungi dari kritik dan falsifikasi sehingga ia tahan dari berbagai kritik dan falsifikasi. Hal ini menjadi ciri yang membedakan antara normal science dan pra science (Chalmers, 1983).
Menurut muslih (2004), normal science melibatkan usaha terperinci dan terorganisasi untuk menjabarkan paradigma dengan tujuan memperbaiki keseimbangannya dengan alam (fenomena) dengan memecahkan teka-teki science, baik teka-teki teoritis maupun teka-teki eksperimental. Teka-teki teoritis meliputi perencanaan dan mengembangkan asumsi yang sesuai untuk penerapan status hokum Teka-teki eksperimental meliputi perbaikan keakuratan observasi dan pengembangan teknik eksperimen sehingga mampu menghasilkan pengukuran yang dapat dipercaya.
Dalam tahap normal science ini terdapat tiga fokus bagi penelitian sains faktual, yaitu:
1. Menentukan fakta yang penting.
2. Menyesuaikan fakta dengan teori. Upaya menyesuaikan fakta dengan teori ini lebih nyata ketergantungannya pada paradigma. Eksistensi paradigma itu menetapkan dan menyusun masalah-masalah yang harus dipecahkan; (seringkali paradigma itu secara implisit terlibat langsung di dalam desain peralatan yang mampu memecahkan masalah tersebut).
3. Mengartikulasikan teori paradigma dengan memecahkan beberapa ambiguitasnya yang masih tersisa dan memungkinkan pemecahan masalah yang sebelumnya hanya menarik perhatian saja (Yudi, 2010)
        
       Paradigma Anomali
Sains yang normal, yakni kegiatan pemecahan masalah yang baru saja kita teliti, adalah kegiatan yang sangat kumulatif, benar-benar berhasil dalam tujuannya, perluasan secara tetap ruang lingkup dan persisi pengetahuan sains. Sains yang normal tidak ditujukan kepada kebaruan-kebaruan fakta atau teori dan, jika berhasil tidak menemukan hal-hal tersebut. Jika karakteristik sains ini akan diselaraskan dengan apa yang telah dikatakan, maka riset yang mengikuti suatu paradigma harus merupakan cara yang sangat efektif untuk mendorong perubahan paradigma (Kuhn, 1989).
Jika ilmuwan gagal memecahkan teka-teki science tersebut maka kegagalan tersebut merupakan kegagalan ilmu itu sendiri bukan kegagalan paradigma. Teka-teki harus ditandai oleh kepastian akan adanya pemecahannya dari paradigma. Teka-teki yang tidak terpecahkan dipandang sebagai kelainan (anomali) bukan sebagai falsifikasi suatu paradigm (Chalmer, 1983).
Jadi bisa disimpulkan bahwa apabila dalam pemecahan teka-teki dan masalah science normal jika dijumpai problem, kelainan, kegagalan (anomali) yang tidak mendasar, maka keadaan ini tidak akan mendatangkan krisis. Sebaliknya jika sejumlah anomali atau fenomena-fenomena yang tidak dapat dijawab oleh paradigma muncul secara terus menerus dan secara mendasar menyerang paradigma, maka ini akan mendatangkan suatu krisis.

www.workingjournalistpress.com


       Krisis Revolusi
Sasaran normal science adalah memecahkan teka-teki science dan bukan menghasilkan penemuan-penemuan baru yang konseptual, yang diikuti dengan munculnya teori-teori baru. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya akan muncul gejala-gejala baru yang belum terjawab oleh teori yang ada. Apabila hal-hal baru yang terungkap tersebut tidak dapat diterangkan oleh paradigma dan anomali antara teori dan fakta menimbulkan problem yang gawat, serta anomali-anomali tersebut secara fundamental menyerang paradigma maka dalam keadaan demikian, kepercayaan terhadap paradigma mulai goyah yang kemudian terjadilah keadaan krisis yang berujung pada perubahan paradigma (revolusi) (Kuhn, 1989).
Revolusi sains muncul karena adanya anomali dalam riset ilmiah yang makin parah dan munculnya krisis yang tidak dapat diselesaikan oleh paradigma yang menjadi referensi riset. Untuk mengatasi krisis, ilmuwan bisa kembali lagi pada cara-cara ilmiah yang lama sambil memperluas cara-cara itu atau mengembangkan sesuatu paradigma tandingan yang bisa memecahkan masalah dan membimbing riset berikutnya. Jika yang terakhir ini terjadi, maka lahirlah revolusi sains (Aribah M, 2010)
Revolusi sains merupakan episode perkembangan non-kumulatif, dimana paradigma lama diganti sebagian atau seluruhnya oleh paradigma baru yang ber-tentangan. Transformasi-transformasi paradigma yang berurutan dari paradigma yang satu ke paradigma yang lainnya melalui revolusi, adalah pola perkembangan yang biasa dari sains yang telah matang. Jalan revolusi sains menuju sains normal bukanlah jalan bebas hambatan (Yudi, 2010).
Sebagian ilmuwan atau masyarakat sains tertentu ada kalanya tidak mau menerima paradigma baru dan ini menimbulkan masalah sendiri. Dalam pemilihan paradigma tidak ada standar yang lebih tinggi dari pada persetujuan masyarakat yang bersangkutan. Untuk menyingkap bagaimana revolusi sains itu dipengaruhi, kita harus meneliti dampak sifat dan dampak logika juga teknik-teknik argumentasi persuasif yang efektif di dalam kelompok-kelompok yang membentuk masyarakat sains itu. Oleh karena itu permasalahan paradigma sebagai akibat dari revolusi sains, hanya sebuah konsensus yang sangat ditentukan oleh retorika di kalangan masyarakat sains itu sendiri. Semakin paradigma baru itu diterima oleh mayoritas masyarakat sains, maka revolusi sains kian dapat terwujud dengan baik ( Syamsir, 2008).

Ilmu normal
Jika anomali yang ada dalam proses perkembangan suatu ilmu telah bisa dipecahkan oleh ilmuwan dalam komunitas ilmiah, dalam arti suatu komunitas ilmiah telah bisa mengatasi dan menyelesaikan krisisnya dan menyusun suatu paradigma baru maka terjadilah revolusi sains (Chalmers, 1983).
Sesudah suatu komunitas sains mengalami revolusi dengan perputaran serupa gestalt yang menyertainya, maka kemajuan-kemajuan penyelesaian teka-teki yang ada selama ini bisa diselesaikan, sehingga dicapailah kembali pada tahapan normal sains yang baru yang mempunyai keadaan baru sebab gambaran yang dihasilkan dari teki-teki tersebut juga sudah berubah. Dalam tahapan nomal sains baru ini para komunitas ilmiah menyusun kembali suatu paradigma baru dengan memilih nilai-nilai, norma-norma, asumsi-asumsi, bahasa-bahasa, dan cara mengamati dan memahami alam ilmiahnya dengan cara baru, sehingga cara pemecahan persoalan model lama ditinggalkan dan menuju cara pemecahan dan pemahaman yang baru (Muslih, 2004).
Yang dimaksud Kuhn “ilmu normal” adalah kegiatan penelitian yang secara teguh berdasarkan satu atau lebih pencapaian ilmiah (scientific achievements) dimasa lalu, yakni pencapaian-pencapaian yang komunitas atau masyarakat ilmiah bidang tertentu pada suatu masa dinyatakan sebagai pemberi landasan untuk praktek selanjutnya. Kuhn mengatakan bahwa ilmu normal memiliki dua ciri esensial :
1. Pencapaian ilmiah itu cukup baru sehingga mampu menarik para pemraktek ilmu dari berbagai cara lain dalam menjalankan kegiatan ilmiah; maksudnya dihadapkan pada berbagai alternatif cara menjalankan kegiatan ilmiah, sebagian besar pemraktek ilmu cenderung memilih untuk mengacu pada pencapaian itu dalam menjalankan kegiatan ilmiah mereka.
2. Pencapaian itu cukup terbuka sehingga masih terdapat berbagai masalah yang memerlukan penyelesaian oleh pemraktek ilmu dengan mengacu pada pencapaian-pencapaian itu (Yudi, 2010).
Jadi dapat disimpulkan bahwa adanya dua tahap atau periode dalam setiap ilmu, yakni periode pra-paradigmatik dan periode ilmu normal (normal science). Pada periode pra-paradigmatik pengumpulan fakta atau kegiatan penelitian dalam bidang tertentu berlangsung dengan cara yang hampir dapat dikatakan tanpa mengacu pada perencanaan atau kerangka teoritikal yang diterima umum. Pada tahap pra-paradigmatik ini sejumlah aliran pikiran yang saling bersaing, tetapi tidak ada satupun aliran yang memperoleh penerimaan secara umum. Dengan terbentuknya paradigma itu, kegiatan ilmiah dalam sebuah disiplin memasuki periode ilmu normal atau sains normal (normal science).
  • Macam-macam Paradigma Ilmu Pengetahuan
Macam macam paradigma ilmu pengetahuan meliputi:
1.    Paradigma kualitatif
Proses penelitian berdasarkan metodologi yang menyelidiki fenomena sosial untuk menemukan teori dari lapangan secara deskriptif dengan menggunakan metode berfikir induktif.
2.    Paradigma deduksi-induksi
Penelitian deduksi (penelitian dengan pendekatan kuantitatif). Analisis data-kesimpulan. Penelitian induksi (pendekatan kualitatif). Pengumpulan data-observasi-hipotesis-kesimpulan.
3.    Paradigma piramida
Kerangka berfikir/model penyelidikan ilmiah yang tahapannya menyerupai piramida. Terbagi menjadi:
  • Piramida berlapis, yang menunjukkan semakin ke atas berarti tujuan semakin tercapai yaitu ditemukannya teori baru
  • Paramida ganda, yang di buat berdasarkan piramida yang sudah ada
  • Piramida terbalik, piramida yang di buat berdasarkan teori yang sudah ada
4.    Paradigma siklus empiris
Kerangka berfikir atau model penyelidikan ilmiah berupa siklus.
5.    Paradigma rekonstruksi teori.
Model penyelidikan ilmiah yang berusaha merancang kembali teori atau metode yang telah ada dan digunakan dalam penelitian. Agar model rekonstruksi teori dapat diterapkan dengan baik, pemilihan dan penguasaan teori tertentu yang dianggap relevan dengan penelitian sangat menunjang keberhasilan teorinya.


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan paparan pada pembahasan, dapat disimpulkan bahwa filsafat merupakan induk dari ilmu pengetahuan. Karena adanya rasa ingin tahu pada diri manusia, maka manusia berusaha mencari tahu dan akhirnya mendapatkan pengetahuan. Selanjutnya, bidang-bidang ilmu pengetahuan terbagi menjadi beberapa aliran yang berbeda seperti pada saat sekarang ini.
Menurut Kuhn, Ilmu pengetahuan berkembang dari masa ke masa dengan skema atau tahapan-tahapan yang open-ended. Yaitu terbuka untuk direduksi dan dikembangkan. Selain itu ada bermacam-macam paradigma dalam ilmu pengetahuan yang terbagi menjadi lima macam. Dengan demikian, filsafat yang mendasari adanya paradigma bagi ilmu pengetahuan nampaknya tak bisa diabaikan begitu saja mengingat pada masa sekarang ini berbagai ilmu pengetahuan sudah berkembang dan akan tetap berkembang karena diawali oleh filsafat ilmu itu sendiri.

 
 DAFTAR PUSTAKA

Andriansah. 2012. Filsafat Ilmu Paradigma Kuhn. http://kelasandriansah. wordpress.com/2012/11/27/filsafat-ilmu-paradigma-kuhn/ 5 Desember 2013.
Engladiomenhas, Hardi. 2011. Thomas S. Kuhn: Paradigma dan Revolusi Ilmu      Pengetahuan. http://www.scribd.com/doc/60432683/Makalah-Filsafat-Ilmu 4 April 2012.
Faruq, Ahmad. M. Fil.I. 2009. Filsafat Umum. Ponorogo: STAIN Po Press
Iqbal, Muhammad. 2012. Tugas Makalah Pengantar Filsafat Ilmu. http://akuibe.blogspot.com/2012/06/tugas-makalah-pengantar-filsafat-ilmu.html 5 Desember 2013.
Muslih, M. 2004. Filsafat Ilmu Kajian Atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Belukar.
Suhartono. 2005. Filsafat Ilmu Pengetahuan.Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
Suriasumantri, S. Jujun. 1996. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Tafsir,A. 1990. Filsafat Umum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM. 2004. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty
Ulum, Miftahul, Dr, M.Ag, dkk. 2010. Pengantar Filsafat Pendidikan. Ponorogo: STAIN Po Press.
 

Minggu, 14 Agustus 2016

Berbagai Ungkapan Salam dalam Bahasa Isyarat Versi Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI)

Berbagai Ungkapan Salam dalam Bahasa Isyarat 
Versi Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI)

        Selamat malam, sahabat cerdas! Bagaimana kabarnya nih? Semoga teman-teman selalu diberi kesehatan oleh Tuhan YME ya. Amiin.

       Kali ini, admin akan membagikan beberapa ungkapan salam yang biasa kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari dalam bahasa isyarat versi Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI). Seperti yang kita ketahui bersama, dalam bahasa Isyarat Indonesia, kita mengenal Sistem Bahasa Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) dan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO).  

         Nah, berbagai ungkapan yang admin akan bagikan ke teman-teman adalah versi SIBI. Untuk versi BISINDO, InshaAllah akan admin bagikan di post selanjutnya. Sebagai pengantar, admin akan membagikan bagaimana cara mengeja abjad versi SIBI. Langsung saja, Check it out!!!

 Gambar 1. Abjad Versi SIBI
 Gambar 2. Ungkapan Salam "Assalamualaikum" Versi SIBI
  Gambar 3. Ungkapan Salam "Halo" Versi SIBI
  Gambar 4. Ungkapan "Maaf" Versi SIBI
  Gambar 5. Ungkapan "Saya" Versi SIBI
  Gambar 6. Ungkapan Salam "Selamat Datang" Versi SIBI
  Gambar 7. Ungkapan Salam "Selamat Malam" Versi SIBI
  Gambar 8. Ungkapan Salam "Selamat Pagi" Versi SIBI
  Gambar 9. Ungkapan Salam "Selamat Siang" Versi SIBI
  Gambar 10. Ungkapan "Selamat Tinggal" Versi SIBI
  Gambar 11. Ungkapan "Selamat Ulang Tahun" Versi SIBI
  Gambar 12. Ungkapan "Selamat" Versi SIBI
  Gambar 13. Ungkapan Salam "Wassalamualaikum" Versi SIBI
 Gambar 14. Ungkapan "Terima Kasih" Versi SIBI 

       Bagaimana, teman-teman? Keren bukan? Itu hanya sebagian ungkapan yang admin post kali ini lo. Masih banyak ungkapan yang lainnya. InshaAllah selanjutnya akan admin post lebih banyak lagi tentang bahasa isyarat, baik SIBI maupun BISINDO. 
       
       Kalau teman-teman ingin belajar lebih lanjut lagi mengenai bahasa isyarat, baik SIBI maupun BISINDO, teman-teman bisa mengakses di internet, mendownload aplikasi kamus bahasa isyarat ataupun mencari tahu di kamus buku bahasa isyarat, dan banyak lagi media lainnya untuk belajar. 

         Nah, kalau ada yang tanya, "Saya ingin belajar lewat guru nih. Dimana ya belajarnya?" Tak usah bingung teman-teman. Langsung saja hubungi SAHABAT BAHASA! Kami memiliki program kursus privat bahasa isyarat, baik SIBI maupun BISINDO lo! Pengajar kami adalah para ahli bahasa isyarat, yang akan datang dan  mengajar langsung ke umah teman-teman. Teman-teman juga bisa memilih pengajar, baik yang non tunarungu maupun yang tunarungu lo! Keren gak tuh? Makanya langsung hubungi dan bergabung dengan kami! 

#LoveandEqualitywithDisability#EverythingisPossiblewithSahabatBahasa                

Sabtu, 13 Agustus 2016

Sosiolinguistik: Perubahan, Pergeseran dan Pertahanan Bahasa

Sosiolinguistik: 
Perubahan, Pergeseran dan Pertahanan Bahasa

www.thalisuowm.weebly.com


  •  PERUBAHAN BAHASA

Sifat bahasa yang dinamis serta adanya percampuran antar kode bahasa mengakibatkan adanya perubahan bahasa. Perubahan bahasa biasa diartikan sebagai adanya perubahan kaidah, bisa karena kaidahnya direvisi, kaidahnya menghilang, atau pun munculnya kaidah baru dan semuanya itu dapat terjadi pada semua tataran linguistik: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, maupun leksikon. Terjadinya perubahan bahasa menurut para ahli tidak dapat diamati, sebab perubahan itu yang sudah menjadi sifat hakiki bahasa (dinamis), berlangsung dalam waktu yang relatif lama, sehingga tidak mungkin diobservasi oleh seseorang yang mempunyai waktu yang relatif terbatas.

Namun yang dapat diketahui adalah bukti adanya perubahan bahasa itu sendiri. Inipun terbatas pada bahasa-bahasa yang mempunyai tradisi tulis, dan mempunyai dokumen tertulis dari masa yang sudah lama berlalu. (Chaer, 2004: 134). Beberapa bahasa yg bisa di ikuti perkembanganya adalah bahasa Bahasa Inggris, Arab, Indonesia, Melayu dan bahasa jawa. Namun menurut Sausure (1959) dan Bloomfield (1913) yang dapat kita lakukan adalah mengamati akibat dari perubahan bahasa tersebut. Akibat yang terutama dari perubahan bahasa tersebut adalah adanya perbedaan terhadap struktur bahasa tersebut.

 1. Perubahan Fonologi

Perubahan fonologis dalam bahasa Inggris ada juga yang berupa penambahan fonem. Perubahan bunyi dalam sistem fonologi bahasa Indonesia pun dapat kita lihat. Sebelum berlakunya EYD, fonem /f/, /x/, dan /s/ belum dimasukan dalam khazanah fonem bahasa Indonesia; tetapi kini ketiga fonem itu telah menjadi bagian khazanah bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia lama hanya mengenal empat pola silabel, yaitu V, VK, KV, dan KVK; tetapi kini pola KKV, KKVK, KVKK telah pula menjadi pola silabel dalam bahasa Indonesia. Contohnya dalam pola KKV adalah khu-syuk; kha-watir; dll, sedangkan untuk pola KKVK seperti tran-migrasi; prak-tik; dll, lalu untuk pola KVKK seperti makh-luk; masy-hur.

2. Perubahan Morfologi

Perubahan bahasa dapat juga terjadi dalam bidang morfologi yakni dalam proses pembentukan kata. Misalnya dalam bahasa Indonesia ada proses penasalan, dalam proses pembentukan kata dengan prefiks me-  da pe-. Kaidahnya adalah:
(1) apabila kedua prefiks itu diimbuhkan pada kata yang dimulai dengan konsonan /l/, /r/, /w/, dan /y/ tidak terjadi penasalan
(2) kalau diimbuhkan pada kata yang dimulai dengan konsonan /b/ dan /p/ diberi nasal /na/
(3) kalau diimbuhkan pada kata yang dimulai denga konsonan /d/ dan /t/ diberi nasal /n/;
(4) kalau diimbuhkan pada kata yang dimulai dengan konsonan /s/ diberi nasal /ny/; dan bila diimbuhkan pada kata yang dimulai dengan konsonan /g/, /k/, /h/, dan semua vokal diberi nasal /ng/.

Contoh, kata bor. Menurut kaidah di atas jika kata bor diberi prefiks me- dan pe- tentu bentuknya harus menjadi membor dan pembor, tetapi dalam kenyataan berbahasa yang ada adalah bentuk mengebor dan pengebor. Jadi jelas dalam data tersebut telah terjadi penyimpangan kaidah dan munculnya alomorf menge- dan penge-. Para ahli tata bahasa tradisional tidak mau menerima alomorf tersebut karena menyalahi kaidah dan dianggap merusak bahasa. Namun kini kedua alomorf itu diakui sebagai dua alomorf bahasa Indonesia untuk morfem me- dan pe-. (Chaer dan Leony, 2010:137)

3. Perubahan Sintaksis

Perubahan kaidah sintaksis bisa terlihat dalam bahasa Indonesia. Menurut kaidah sintaksis yang berlaku sebuah kalimat aktif transitif harus selalu mempunyai objek. Definisi singkat dari kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya melakukan pekerjaan sedangkan objeknya dikenai pekerjaan. Ciri lainya adalah penggunaan afiks me- atau ber- pada predikatnya. Tetapi dewasa ini kalimat aktif transitif banyak yang tidak dilengkapi objek, seperti:
-          Anita sedang mengajar di TK Dewi Sartika
-          Dia mulai menulis sejak duduk di bangku SMP.
-          Rahmad sudah berpakaian rapi, tetapi belum mandi.

4. Perubahan Kosakata

Dari berbagai bentuk perubahan bahasa yang ada, perubahan paling mudah terlihat adalah pada bidang kosakata. Perubahan kosakata dapat berarti bertambahnya kosakata baru, hilangnya kosakata lama, dan berubahnya makna kata. Bukti dari pernyataan ini adalah terus bertambahnya jumlah kata yang ada di kamus KBBI pada setiap kali penerbitannya. Oleh Chaer dan Leonie (2010:139) disebutkan bahwa ada 6 bentuk dari perubahan kosakata.
a.       Penyerapan bahasa asing dan daerah
b.      Proses penciptaan suku kata baru
c.       Pemberian nama produk atau merk dagang
d.      Pemendekan kata dan akronim
e.       Penggabungan kata dan kata majemuk
f.       Penyingkatan gabungan kata

5. Perubahan Semantik

Perubahan semantik yang umumnya adalah berupa perubahan pada makna butir-butir leksikal yang mungkin berubah total, meluas, atau juga menyempit.
a.     Perubahan yang bersifat total, maksudnya, kalau pada waktu dulu kata itu bermakna ‘A’, maka kini atau kemudian menjadi bermakna ‘B’. Contoh kata seni dulu berarti ‘air kencing’, tetapi kini berarti ‘karya yang bernilai halus’.
b.  Perubahan makna yang sifatnya meluas (broadening), maksudnya dulu kata tersebut hanya memiliki satu makna, tetapi kini memiliki lebih dari satu makna. Contoh kata saudara pada awalnya hanya bermakna ‘orang yang lahir dari ibu yang sama’, tetapi kini berarti juga ‘kamu’.
c.    Perubahan makna yang menyempit, artinya kalau pada umumnya kata itu memiliki makna yang luas, tetapi kini menjadi lebih sempit maknanya. Misalnya, kata sarjana dalam bahasa Indonesia pada mulanya bermakna ‘orang cerdik pandai’, tetapi kini hanya bermakna ‘orang yang sudah lulus dari perguruan tinggi’.

  • PERGESERAN BAHASA

            Oleh Weinreich (1953:58) didefinisikan sebagai penggantian suatu bahasa oleh bahasa lain secara berangsur-angsur, karena akibat kontak bahasa dalam situasi imigrasi. Diilustrasikan seperti saat anak lahir, didalam keluarganya dia di didik bahasa A, namun seiring bertambahnya usia dia akan mendapat bahasa kedua dari proses interaksi dengan masyarakat atau pun bangku sekolah yaitu B. Lambat laun dia akan merasa bahwa bahasa B lebih penting dan meninggalkan bahasa A. 

Namun faktor kedwibahasaan bukanlah satu-satunya faktor penyebab terjadinya pergeseran bahasa. Terdapat beberapa faktor lain yang juga merupakan penyebab terjadi pergeseran bahasa.

Pertama, perpindahan penduduk (imigrasi). Hal ini sesuai dengan pernyataan Chaer (2004:142), Faktor pergeseran bahasa (language shift) menyangkut masalah penggunaan bahasa oleh seorang penutur atau sekelompok penutur yang terjadi akibat perpindahan dari satu masyarakat tutur ke masyarakat tutur yang lain. Pergeseran bahasa juga dapat terjadi karena masyarakat yang didatangi jumlahnya sangat kecil dan terpecah-pecah. Pergeseran Bahasa dalam komunitas kecil bergerak dari domain ke domain. Kecenderungan umum untuk bahasa dengan domain “Besar” menginvasi domain bahasa yang lebih kecil. Dengan kata lain, pergeseran bahasa bukan disebabkan oleh masyarakat yang menempati sebuah wilayah, melainkan oleh pendatang yang mendatangi sebuah wilayah. Kasus seperti ini pernah terjadi di beberapa wilayah kecil di Inggris ketika industri mereka berkembang. Beberapa bahasa kecil yang merupakan bahasa penduduk setempat tergeser oleh bahasa Inggris yang dibawa oleh para buruh industri ke tempat kecil itu.

Kedua, pergeseran bahasa juga disebabkan oleh faktor ekonomi. Salah satu faktor ekonomi itu adalah industrialisasi. Kemajuan ekonomi kadang-kadang mengangkat posisi sebuah bahasa menjadi bahasa yang memiliki nilai ekonomi tinggi (Sumarsono dan Partana, 2002:237). Kasus ini dapat dicermati pada bahasa Inggris. Jauh sebelum bahasa Inggris muncul, bahasa yang pertama sekali dipakai di tingkat internasional adalah bahasa Latin. Bahasa ini menjadi bahasa yang dipilih oleh masyarakat, terutama masyarakat pelajar. Namun, seiring dengan berkembangnya zaman, bahasa Latin kemudian ditinggalkan orang. Konon katanya bahasa ini ditinggalkan karena terlalu rumitnya struktur bahasa Latin, karena kerumitan ini orang beralih kepada bahasa Prancis. Bahasa ini memiliki kedudukan layaknya bahasa Latin dahulu. Akan tetapi, sebagaimana bahasa Latin, bahasa ini kemudian ditinggalkan orang. Karena semakin maju perekonomian di Inggris yang ditandai oleh adanya revolusi industri orang kemudian beralih ke bahasa Inggris. Bahasa ini akhirnya menjadi bahasa internasional, mengalahkan bahasa Latin dan bahasa Prancis. Sekarang orang berbondong-bondong belajar bahasa Inggris. Bahkan demi bahasa Inggris, orang rela meninggalkan bahasa pertamanya. Kedudukan bahasa Inggris ini semakin diperkuat oleh adanya perusahaan-perusahaan baik swasta maupun negeri yang menjadikan bahasa Inggris sebagai salah satu persyaratan yang harus dipenuhi oleh para pelamar kerja. Bukan hanya itu. Di tingkat perguruan tinggi saja lulus TOEFL merupakan salah satu syarat untuk dapat mengikuti sidang sarjana. Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya tentu saja karena Eropa merupakan penguasa ekonomi di dunia ini.

Ketiga, pergeseran bahasa menurut Sumarsono dan Partana (2002:237) juga disebabkan oleh sekolah. Sekolah yang biasanya mengajarkan bahasa asing kepada anak-anak didiknya. Hal ini pula yang kadangkala menjadi penyebab bergesernya posisi bahasa daerah. Akibatnya anak-anak tidak mampu berbahasa daerah. Selain itu para orang tua juga enggan untuk mengajarkan anaknya bahasa daerah karena mereka berpikir anak-anak mereka akan kesulitan menerima pelajaran yang diberikan guru mereka yang berbahasa Indonesia. Sehingga bahasa daerah semakin luntur dan tidak dimengerti oleh generasi mudanya.

Dampak dari pergeseran bahasa adalah punahnya suatu bahasa, oleh Dorian (Sumarsono dan Partana 2002:284) kepunahan bahasa hanya dapat dipakai pada pergeseran total pada satu guyup tutur saja dan pergeseran itu terjadi dari satu bahasa ke bahasa yang lain, bukan dari satu ragam bahasa ke ragam bahasa yang lain dalam satu bahasa. Sehingga apa yang dimaksut oleh Dorian ini kepunahan bahasa adalah pergeseran total bahasa dalam satu guyup tutur.

www.researchperspectives.org
  • PEMERTAHANAN BAHASA

Dalam pemertahanan bahasa, komunitas secara kolektif memutuskan untuk terus menggunakan bahasa tersebut atau bahasa itu telah digunakan secara tradisional. Pemertahanan bahasa (language maintenance) berkaitan dengan masalah sikap atau penilaian terhadap suatu bahasa, untuk tetap menggunakan bahasa tersebut di tengah-tengah bahasa lainnya. Di sisi lain itu juga merujuk kepada situasi dimana komunitas penutur, dibawah keadaan yang mendukung terjadinya pergeseran bahasa, tetap berpegang pada bahasa tersebut. Kridalaksana mengartikan “usaha agar suatu bahasa tetap dipakai dan dihargai, terutama sebagai identitas kelompok, dalam masyarakat bahasa yang bersangkutan melalui pengajaran, kesusastraan, media massa, dan lain-lain.Adapun faktor-faktor pemertahanan bahasa yaitu:

1.Faktor Prestise dan Loyalitas

Nilai prestise dari language choice seseorang yang menggunakan bahasa daerah mereka di tengah komunitas yang heterogen lebih tinggi tingkatannya dengan bahasa daerah lain. menurut Dressler (1984) pada saat sebuah bahasa daerah kehilangan prestisenya dan kurang digunakan dalam fungsi-fungsi sosial, maka ia menyebutkan keadaan ini sebagai sebuah evaluasi sosiopsikologis negatif (negative sociopsychological evaluation) dari sebuah bahasa. Pada kondisi inilah penutur asli sebuah bahasa daerah bisa dengan rela (voluntarily) mengubah bahasanya ke satu bahasa daerah lain yang lebih prestisius. Jadi sangat penting untuk menjaga agar bahasa daerah tetap mempunyai nilai prestise di masyarakat.

Salah satu cara yang bisa dilakukan oleh pemerintah daerah untuk melestarikan dan menjaga prestise bahasa daerah mereka adalah dengan mewajibkan instansi pendidikan untuk menjadi wadah belajar bahasa daerah bagi generasi penerusnya. Hal ini sesuai dengan penerapan yang dinyatakan oleh Fishman (1977:116) bahwa for language spread, schools have long been the major formal (organized) mechanism involved.

2. Faktor Migrasi dan Konsentrasi Wilayah

Migrasi sebenarnya merupakan salah satu faktor yang membawa kepada sebuah pergeseran bahasa. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan Fasold (1984), Lieberson, S. (1982) bahwa bila sejumlah orang dari sebuah penutur bahasa bermigrasi ke suatu daerah dan jumlahnya dari masa ke masa bertambah sehingga melebihi jumlah populasi penduduk asli daerah itu, maka di daerah itu akan tercipta sebuah lingkungan yang cocok untuk pergeseran bahasa. Pola konsentrasi wilayah inilah yang menurut Sumarsono (1990:27) disebutkan sebagai salah satu faktor yang dapat mendukung kelestarian sebuah bahasa.

3.Faktor Publikasi Media Massa

Media massa merupakan faktor lain yang turut menyumbang pemertahanan bahasa daerah. Format yang dipresentasikan pada media dikemas dalam bentuk iklan (advertising). Untuk lebih akrab dengan pendengar dan pemirsa TV, pihak stasiun radio dan televisi lebih banyak mengiklankan produk-produk dalam bahasa daerah daripada bahasa lain. Situasi kebahasaan seperti ini sejalan dengan apa yang dinyatakan Holmes (1993) bahwa salah satu faktor utama yang berhubungan dengan keberhasilan pemertahanan bahasa adalah jumlah media yang mendukung bahasa tersebut dalam masyarakat (publikasi, radio, TV dan sebagainya).


  • KESIMPULAN

Perubahan, pergeseran, dan pemertahanan bahasa masih berkaitan dengan masalah kontak bahasa yang terjadi dalam masyarakat bilingual atau multilingual. Perubahan bahasa menyangkut soal bahasa sebagai kode, di mana sesuai dengan sifatnya yang dinamis, dan sebagai akibat persentuhan dengan kode-kode lain, bahasa itu bisa berubah. Pergeseran bahasa menyangkut masalah mobilitas penutur , di mana sebagai akibat dari perpindahan penutur atau para penutur itu dapat menyebabkan pergeseran bahasa, seperti penutur yang tadinya menggunakan  bahasa ibu kemudian menjadi tidak menggunakannya lagi. Sedangkan pemertahanan bahasa lebih menyangkut masalah sikap atau penilaian terhadap suatu bahasa, untuk tetap menggunakan bahasa tersebut di tengah-tengah  bahasa-bahasa lainnya.



  Daftar Pustaka

Indrawan, Made iwan. 2010. Sociolinguistic: the study of societies language, Yogjakarta, Graha Ilmu
http://doctorseducati.blogspot.com/2011/06/perubahan-pergeseran-dan-pemertahanan.html di akses pada senin 17 November 2014